Banyak orang tidak menyadari bahwa kemajuan teknologi telah melahirkan ribuan bahkan jutaan lapangan kerja baru. Mereka yang telah terbiasa bekerja secara manual seperti seorang teller harus terus berupaya meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya untuk dapat bersaing dengan sebuah peran pekerjaan yang baru. Saat ini banyak lapangan kerja baru yang membutuhkan tenaga-tenaga terampil yang memiliki keahlian khusus seperti permesinan, komputer, arsitek, matematika dan lain sebagainya.
Dampak dan kondisi seperti ini membuat pemerintah maupun stakeholder harus berusaha keras untuk mendidik dan menambah keahlian para pekerja dengan tujuan untuk menghindari krisis lonjakan pengangguran yang tidak berkualitas maupun sektor bisnis yang basis pelanggannya terus menurun. Klaus Schwab merupakan salah seorang founder and executive chairman of the world Economic Forum mengemukakan bahwa pemerintah harus melengkapi skill para pencari kerja dengan sosial skill yang dibutuhkan dimasa depan, mereka harus membentuk satuan tugas untuk memuluskan periode transisi ini.
Pertanyaannya adalah ketrampilan seperti apa yang harus dimiliki pada revolusi industri IV sekarang ini? Menurut pandangan Klaus Schwab, beberapa orang akan terkejut dimana keahlian-keahlian yang dimiliki oleh mereka justru ada dan terjadi saat masa seseorang mulai menempuh pendidikan disekolah-sekolah seperti kemampuan untuk saling berbagi dan bernegosiasi.
Banyak hal yang menarik dari beberapa kecenderungan seperti ini, banyak lapangan pekerjaan yang mulai digantikan oleh teknologi yang serba otomatis. Trend peralihan seperti ini lebih banyak dirasakan oleh pekerja dengan profesi teller. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana memastikan dan mengedukasi karyawan-karyawan perusahaan untuk terus memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan serta memiliki soft skill untuk dapat bersaing di dunia kerja.
ARUS DIGITALISASI
Perkembangan Digitalisasi memberikan revolusi dan jangkauan yang luas terhadap hampir semua sektor industri dan jasa, plus minus dari digitalisasi melahirkan kecepatan dan efektivitas, akan tetapi turut memberikan ancaman terhadap profesi pekerja di beberapa sektor bisnis khususnya perbankan. Menurut prediksi dari World Economic Forum menyebutkan bahwa profesi teller dan layanan pelanggan diprediksi tidak akan berkembang, survei tersebut juga turut menyebutkan tidak menutup kemungkinan pekerjaan dibidang administrasi turut tergerus. Di negara Eropa perkembangan digitalisasi telah banyak memakan korban, salah satunya adalah bank milik pemerintah inggris yakni Scotland telah menutup kurang lebih 259 kantor cabang dan merumahkan ratusan karyawannya. Hal ini terjadi karena efisiensi dan migrasi ke arah perbankan digital.
Di Negara sendiri yakni Indonesia, bank Pensiunan Nasional Tbk, dianggap sebagai salah satu bank pencetus awal digitalisasi perbankan dengan meluncurkan aplikasi JENIUS dengan maksud untuk menyesuaikan pola hidup masyarakat modern saat ini, mengutip kata Head BTPN “Kami ingin Jenius terus berevolusi untuk dapat menyesuaikan gaya hidup para kaum digital yang begitu dinamis”. Peluncuran aplikasi jenius sebagai transformasi di sektor Digital menyebabkan banyak layanan kantor kas dan kantor cabang di pangkas, selain itu BTPN juga membuka kesempatan pensiun dini bagi seluruh karyawan yang berminat, arah dari kebijakan ini adalah untuk dapat merekrut karyawan dibidang teknologi informasi yang memiliki wawasan tentang perbankan.
Walaupun Trend Digitalisasi terus mengalami peningkatan, namun secara umum akan tetap membutuhkan banyak tenaga kerja di bidang marketing, ini dikarenakan sektor perbankan membutuhkan tenaga yang dapat menjual produk-produk mereka ke masyarakat termasuk produk digital perbankan yang terus di kembangkan untuk percepatan dan kemudahan transaksi. Selain perbankan digitalisasi turut berpengaruh pada sektor retail yang dampaknya sangat terasa pada toko-toko offline yang kini telah digantikan istilah “belanja online”, dari yang tadinya melakukan transaksi tunai mulai beralih ke transaksi non tunai yang dijembatani oleh perbankan maupun fintech.
